Jumat, 30 November 2012

...::: Aku masih...

Air mataku seolah berhenti mengalir, entah... Apakah karena memang sudah tak ada isinya lagi atau karena aku memang sudah lelah untuk menangis.

Sepi yang sempat bertandang dan pernah jadi teman baikku, kini menghilang perlahan. Ya, aku tak ingin lagi berteman dengan sepi yang pernah membuatku semakin hancur berkeping-keping. Aku tak mau kembali terpuruk dalam lingkaran kesedihan yang dalam dan menyakitkan.

Sepi yang menemaniku sekarang berganti dengan keinginan tuk segera bangkit dari kesedihan. Aku tak ingin terpuruk lagi, aku tak ingin menangis lagi untuk kesekian kalinya. Aku ingin bisa melebur semua rasa sakit itu menjadi rasa bahagia yang kurasakan kelak. Dengan impian yang kurajut sendiri, impian yang selama kau pergi selalu jadi kekuatanku, peganganku untuk terus berjalan dengan yakin dan penuh keyakinan.

Aku harus mampu kendalikan hidupku, mengeluarkan hidupku dari impian-impian kita yang sekarang hanya tinggal kenangan. Aku harus mampu tanpamu, mampu tanpa kehadiranmu sebagai tempatku bersandar.

Aku tak pernah marah padamu, cinta ini, cinta yang sangat besar ini yang membuatku tak pernah bisa marah dan benci padamu. Rasa cinta ini yang membuatku berusaha ikhlas untuk melepasmu segera setelah kau menghilang tanpa jejak.

Bagiku kau pasti punya alasan sendiri untuk meninggalkanku, alasan yang mungkin bagi orang lain hanya alasan semu belaka, tapi bagiku, bagi aku yang sudah terlalu dan sangat memahamimu, alasanmu bisa kuterima, apapun itu.

Karena aku sangat mengenalmu, kecuali sikapmu yang hilang dan lenyap tanpa jejak itu, sungguh bukan dirimu. Aku tak pernah lagi berharap kau kembali, aku tak ingin membuat hatimu disana terbebani dengan panggilan hatiku yang selalu merindu.

Aku ingin dimanapun kamu ada sekarang, tolong bahagiakan dia yang mungkin saja menjadi belahan jiwamu sekarang. Aku tak pernah berharap banyak, sayangku, sungguh tidak.

Apa yang menjadi kebahagianmu, bukankah seharusnya aku ikut bahagia? :). Aku hanya wanita biasa, yang mungkin belum pantas mendampingimu. Mungkin ada yang lebih pantas dariku sehingga kamu memilihnya, itu wajar, karena kita memang belum terikat janji dihadapan-Nya.

Orang lain yang tau cerita kita mungkin akan bersikap apatis bahkan membencimu, tapi kau tau aku. Aku tak pernah bisa memarahimu, hanya bisa mengingatkanmu. Aku tak pernah bisa membencimu, karena cinta ini yang teramat besar, mengubur segala keangkuhan dan benih-benih benci yang sebenarnya sangat wajar jika muncul ke permukaan...

Tapi aku mencoba memasuki pikiranmu, memahami isi hatimu seperti yang biasa kulakukan. Dan hal itu ternyata mampu membuatku lebih sabar dan menerima kepergianmu yang tanpa jejak itu. Ketahuilah, cinta ini memang sangat besar, bahkan aku sendiri baru menyadari besarnya saat kau pergi dan aku hampir gila karenanya.

Kepergianmu membuatku belajar tentang kesabaran dan banyak hal yang indah. Bagiku, kamu memang yang terindah, meskipun bukan yang sempurna :). Sekalipun luka itu ada dan berbekas, tapi aku tak pernah bisa hilangkan cinta itu untukmu. Cinta untukmu sudah kusimpan dalam kotak yang berbeda, sehingga tak akan merusak cinta yang harusnya kuberikan pada dia yang sudah mencintaiku setelah kau pergi.

Bukannya aku pemain cinta, aku hanya mencari kebahagianku yang hilang saat kau pergi tanpa jejak dan meninggalkanku dalam ketidaktahuan. Aku berhak bahagia, sayangku, dengan atau tanpamu disisiku, yang kudampingi seperti impian kita dulu.

Salam rinduku yang teramat besar padamu, Sang Ksatria.

Kau selalu tau aku sangat mencintaimu, sampai detik ini...

Sang Pencinta


Kamis, 29 November 2012

Hidup Baru...

Jarum jam seolah mengejekku yang terus menunggumu sampai sekarang. Kepergianmu yang tanpa sebab, buatku menjadi pribadi yang berbeda. Taukah kamu aku hampir gila sejak kepergianmu?

Kukumpulkan puing-puing dari kekuatan yang terkumpul selama ini, mencari sebuah keyakinan atas dirimu, harapan atas kembalinya dirimu. Namun, nihil. Aku tetap tak dapatkan apa-apa selain kenyataan yang tetap diam membisu.

Seolah semuanya bersekongol untuk menutupi kebenaran atas keberadaanmu padaku. Seolah ini sebuah teka-teki yang harus kupecahkan agar bisa menemukanmu. Aku lelah, lelah tuk terus berlari dan mencari. Aku ingin istirahat sejenak, kalau bisa untuk selamanya, menghentikan pencarian atas dirimu.

Kepergianmu yang tanpa pesan, tanpa jejak, berikan seribu tanya untukku. Lalu kemana kalimat cinta itu? Kemana semua impian yang sudah dirangkai untuk membahagiakan kita, dan bocah kecil yang selalu kurindukan dan kuimpikan?

Air mataku bahkan sudah habis, kering rasanya menunggumu, aku tak ada bedanya dengan manusia tanpa emosi, hanya bisa diam, seperti robot...

Setiap detil tetap kuingat, mengapa sangat susah melupakan sosokmu? Mengapa aku sangat sulit untuk melangkah maju sekalipun aku sudah sangat lelah?

Mengapa aku masih punya keyakinan besar bahwa kelak kau akan kembali? Mengapa?

Bahkan secara tak sadar saat berdoa pun yang kuucap adalah namamu dan bocah kecil kita. Nama kalian. Tak pernah berubah, secara refleks nama kalianlah yang keluar saat aku berdoa. Karena doa itulah yang menemaniku menunggu kalian hadir selama 2 tahun ini.

Ya, 2 tahun yang sangat panjang, terlebih beberapa bulan terakhir disaat kau pergi tanpa jejak. Sadarkah kau hatiku terluka? Aku tidak marah, sungguh. Coba kutanya, kapan aku pernah memarahimu? Tidak pernah, sayangku :).

Entahlah...aku pun bingung denganmu, bingung dengan ketiadaanmu yang begitu tiba-tiba. Membuatku hampir gila dan mati rasa...

Haruskah aku kembali menepi dan menunggumu?