Jumat, 29 April 2011

Semakin besar....

Semakin besar keinginan saya untuk menikah dengan kamu mas. Kamu ingat kemaren kamu bertanya apakah saya siap hidup sebagai istri seorang tentara yang punya banyak aturan. Apakah yang berasal dari kedinasan kamu maupun aturan yang kamu jadikan prinsip hidupmu. Saya jawab, "YA". Saya ngga pernah ragu saat menjawab pertanyaan itu. Saya jawab dengan sangat serius dan sangat yakin. Seyakin hati saya saat memilh kamu saat itu.
Saya siap dan bersedia menikah dengan kamu. Saya mampu menjalani kehidupan bersama kamu dengan aturan-aturan yang kita sepakati.
Saya tau kamu punya alasan kuat dengan aturan-aturan itu, dan saya juga memahaminya. Karena itulah saya bersedia untuk itu.
Saya ngga pernah menganggap ini sebagai keterpaksaan ataupun pengorbanan. Tapi ini adalah yang saya inginkan juga. Cinta bukan pengorbanan. Bagi saya cinta adalah menyatukan keinginan bersama, tapi bukan kesepakatan.

Saya mencintai kamu. Taukah kamu kalau setiap saat saya membayangkan tentang kehidupan berumah tangga bersama kamu. Bahkan tadi malam saya tertidur setelah hampir satu jam mengkhayal tentang kita.
Saya belajar dan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi kamu kelak.
Saya amat sangat mencintai kamu, mas.

Sabtu, 09 April 2011

Bertahan.....

Aku bertahan karena aku yakin dengan cinta kita, mas. Aku tetap bersabar menunggu sikap kamu, menunggu hingga kamu ngga begitu sibuk lagi, agar kita bisa kayak dulu lagi. Aku ngga nyalahin kesibukan kamu, aku mencoba mengerti dan memahami. Yaaa, hitung-hitung belajar dan mempersiapkan diri jadi istri seorang perwira TNI AU.
Aku mencintai kamu dengan seluruh hati, jiwa, raga, dan seluruh pikiranku. Walau terkadang rasa rindu yang teramat sangat dalam datang menyerang, aku tetap menguatkan diri dan hatiku.
Hanya ditemani foto-foto dan sms-sms kamu, mas. Juga ditemani impian-impian dan khayalan tentang masa depan kita yang indah.
Tahukah kamu aku sering merasa iri dengan teman-temanku dan juga orang-orang yang kutemui sedang jalan dan bersama pasangan mereka. Aku juga ingin seperti mereka, mas. Bisa bertemu kapan saja, paling tidak bisa mendengar suaramu. Tapi aku tetap sabar menunggu kedatangan kamu. Aku selalu bersabar menunggu kamu.
Aku kuat? Ngga, aku bisa berdiri tegar dan bertahan disini dengan hatiku untuk kamu bukan karena aku kuat dan hebat. Tapi karena cinta kita yang selalu aku yakini. Cinta yang besar, cinta yang dari awal pertama sudah kuyakini akan bertahan samapai kapanpun, yang kuat bertahan walau dihadang berbagai masalah. Aku mencintaimu, mas. Mencintai kamu dengan segala kekurangan dan kelebihan dirimu. Aku bukan berpuisi, tapi memang benar yang aku katakan.
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, dan tetap mencintaimu. Meskipun kadang kamu seolah tak menghiraukan rasa rindu yang kuungkapkan, aku tetap mencintaimu dengan cintaku yang besar.

-Sang Pencinta yang (sangat) merindukan Sang Ksatria-

Jumat, 08 April 2011

Maaf, saya sudah berpikir buruk...

Astagfirullahal adzim, kok saya bisa berpikir seperti itu? Bodoh sekali saya jika kembali punya pikiran begitu. Bisa-bisanya saya berniat menjodohkan pacar saya, pria yang amat sangat saya cintai dan sayangi dengan teman kampus saya. Masya Allah, maafkan hamba Ya Rabb, hamba telah punya pikiran buruk seperti tadi siang. Saya khilaf, benar-benar khilaf. Hanya karena saya merasa teman saya itu lebih baik dan sempurna, dibanding saya yang jauh dari menarik. Ya Allah, ampunilah hamba. Maafkan kesalahan dan pikiran-pikiran buruk hamba yang mengganggu dalam diri saya sendiri.

-sang pencinta-

Kamis, 07 April 2011

Bertemankan sepi...

Malam ini saya menangis lirih. Sendirian, di kamar yang membuat saya nyaman. Memandangi fotonya membuat dada saya terasa ditarik kuat oleh perasaan rindu yang amat sangat gencarnya. Air mata meleleh tanpa perlawanan.
Kerinduan yang sangat dalam. Rasa cinta yang tak tertahankan. Membuat diriku, Sang Pencinta yang sangat mencintai dan menanti Sang Ksatria hadir menemani di tiap waktunya. (meskipun sebenarnya tidak mungkin).
Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa, raga, hati, waktu, pikiran, semua yang ada pada diriku.
Aku mencintaimu selayaknya bintang yang tak pernah bisa hidup tanpa adanya malam. Aku bintang yang redup, hanya berupa debu bintang, serpihan super kecil yang terabaikan. Yang mendapatkan kembali sinarnya karena dirimu, Sang Ksatria, yang jadi sinar kekuatan yang selalu terangi tiap perjalanan bintang.
Aku mencintaimu, Mas.

-sepi dalam kerinduan-

Rabu, 06 April 2011

Kabulkanlah Ya Allah...

Saya sangat ingin menjadi istrinya, istri yah sholehah, mendampingi dirinya, menjadi bunda bagi putra-putri kami kelak, membangun rumah tangga yang saqinah, mawaddah, dan warrahmah, juga barokah.
Ya Allah, Ya Rabb, Kabulkanlah doa hamba, izinkanlah hamba bersamanya, walau hanya sekejap, sebentar saja tak apa. Impian hamba, mimpi-mimpi tiap malam, tiap waktu, tiap detik, selalu tentang dia. Hamba sangat mencintai dan menyayanginya. Ya Allah, dekatlah hati, jiwa, dan raga kami, pertemukanlah kami segera. Amin Ya Rabbal Alamin.

Saya ingin menikah...

Eits, ini bukan karena ikutan tren artis-artis yang menikah di usia muda.
Saya ingin menikah, karena memang ini yang saya impikan dan inginkan dari dulu. Terlebih saya sudah yakin dengan lelaki itu, pacar saya. Saya tau, hubungan kami masih baru. Apalagi tidak mudah bagi kami karena jarak kami yang jauh dan beda domisili. Saya masih semester 4 dan dia sering tugas dinas luar kota. Tapi niat baik ngga bisa dihalangi hal-hal diatas kan? Memang tidak mudah, tapi pasti bisa diatasi bukan?
Tiap hari selepas sholat saya berdoa, agar jalan jodoh kami dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah swt. Tiap detik, menit, dan jam, saya tidak lepas memikirkan dirinya, mendoakannya dalam nafas dan air mata saya.
Berbagai mimpi dan khayalan indah tentangnya, tentang kami selalu mewarnai hari-hari saya. Membuat saya selalu kuat menghadapi badai yang beberapa kali menerjang hubungan kami. Without him, I'm just an ordinary woman, always waiting for my love. But with him, I feel so great, have a big power, share my huge and super love for him, the only one person who lives in my heart.
Kalo saat dia datang nanti dia bertanya 'Will you marry me?' maka akan saya jawab dengan amat sangat yakin dan keras 'Of course, I do'.
Saya hanya manusia biasa, Sang Pencinta yang mendamba Sang Ksatria datang, tapi saya punya cinta luar biasa yang melebihi besarnya planet bumi dan mengalahkan sinar bintang di kala malam.

-It because of L.O.V.E-

Apakah saya seorang yang Idealis?

Saya ingin mencintai dan dicintai. Saya selalu yakin dengan cinta. Percaya pada cinta sejati. Dan hal hal indah lainnya. Apakah itu bisa disebut Idealis? atau Un-realistic?

Kata teman saya, setia itu menyakitkan. Hanya menunggu, dan perbuatan yang sia-sia. Tapi bagi saya, kesetiaan itu penting, sangat penting. Walaupun orang itu tidak berada di dekat kita, tidak melihat apa yang kita lakukan, tapi bukan berarti kita bebas untuk selingkuh. Yang pasti itu bukan saya. Saya orang yang memegang teguh kesetiaan. Saat saya mencintai seseorang, saya hanya mencintai dia seorang. Jangan pernah tanyakan tentang orang lain dihati saya. Karena tidak ada satupun yang lain, selain dia. Saya mencintai dia, dan ngga akan pernah mengkhianati cinta yang saya rasakan.
Walaupun dia jauh, saya tetap memegang kesetiaan saya untuknya. Satu-satunya pria yang saya cintai, yang saya sayangi, yang mengisi hari dan hati saya. Saya bukan pengumbar cinta yang menginginkan kehadiran seorang pria hanya karena kesepian. Ya, mungkin benar saya idealis. Menginginkan cinta, dicintai, dan mencintai.
Bagi saya, cinta adalah sesuatu yang sakral, yang harus dijaga dan dipegang teguh. Jangan sampai ternodai dengan perselingkuhan.

Still waiting for his moved...

Hmm. Menunggu lagi. Menunggu dengan sabar. Menanti dengan kesetiaan yang teruji. Can't you feel my feeling? hmmm...
Saya tak pernah sesabar ini sebelumnya. Tapi bersamanya, saya jadi punya kekuatan dan kesabaran luar biasa. Ya, ini semua karena cinta saya yang hanya untuk dia, lelaki spesial yang menghuni hati, pikiran, dan hidup saya beberapa bulan ini. Karena cinta, dan karena dirinya pulalah saya bertahan di tempat saya berdiri, menanti kedatangannya.

Lagi lagi cintalah yang berada di balik kehidupan seseorang. Saya mencintainya, sungguh sangat mencintainya. Andai dia baca tulisan ini, apakah yang dirasakannya? Marahkah dia? Kesal? Senang? Bahagia? Atau malah sedih? Saya ngga tau, dan dia juga ngga pernah tau blog saya yang ini.

SAYA MENCINTAI DIRINYA. ^_^

-keep waiting for him-