Kamis, 04 April 2013

Rasa ini masih milikmu...

Kepingan hatiku mulai berjatuhan, tak tertahan, seolah beban yang bergunung dalam hati mulai berontak.
Dimanakah wujud dirimu yang dulu pernah kudampingi? Yang kukuatkan dan menguatku. Yang sealu setia bertahan di hatiku, sampai detik ini, di saat sosokmu tak lagi hadir, rasa itu tetap kuat.
Aku bertahan di reruntuhan malam yang penuh bintang. Ya, bintang yang dulu pernah kau “kirimkan” untuk menyampaikan rindumu.
Aku merindukanmu, Mas. Sangat rindu. Seolah habis nyawaku untuk bertahan menunggumu. Tak ada satupun yang bisa hapus rasa ini, karena sudah terlalu terbiasa dimiliki olehmu.
Penghujung senja jadi saksi, betapa rinduku tak terhapuskan. Betapa aku begitu merindukanmu. Bahkan disaat aku tak tau dimana sosokmu berpijak sekarang, aku tetap bertahan dengan hatiku.
Rasa ini, masih milikmu… Sang Ksatria
Sang Pencinta

Senin, 04 Maret 2013

..:: Bagaimana cara agar melupakanmu? ::..

Mas, sampai detik ini aku masih mencintaimu, masih menunggumu. Entah apa yang kupikirkan, tapi rasa cintaku masih sangat besar. Kepergianmu tanpa jejak tak menghiangkan sedikitpun rasa cinta dan yakinku padamu. Aku yakin kamu akan kembali, Mas. Suatu saat nanti.

Entah alasan apa yang membuatmu pergi tiba-tiba dariku. Tanpa jejak, tanpa sepatah katapun. Hanya meninggalkan aku sendiri di titik balik dimana aku bahkan tak tau caranya mencarimu.

Ya Allah, mengapa rasa cintaku bisa sebesar dan sekuat ini. Jika kepergiannya merupakan kehendakmu, jika aku dan dirinya tak bisa bersatu, tolong hilangkan rasa cinta yang kuat ini. Biarkan kami jalani cinta kami masing-masing dengan orang yang sudah kau pilihkan dalam buku takdir kami di Lauhul Mahfudz.

Rasa cintaku yang sangat besar, membuatku tetap yakin akan kembalinya dirinya, ya Rabb. Kuatkan hati hamba, kuatkan jiwa hamba yang sangat rapuh ini. Kuatkan aku yang lemah saat tanpa dirinya.

Ya Rabb, jika aku bukanlah tulang rusuknya, bukan wanita yang Kau pilihkan untuk mendampinginya, maka berikanlah dia wanita yang lebih pantas, wanita yang bisa jadi istri yang sholehah dan ibu yang terbaik bagi jagoan kecilnya. :') jagoan kecil yang sampai detik ini sangat kusayangi dan kurindukan.

Ya Allah, Ya Rabb, hanya Engkau yang tau sejauh mana cerita kami akan berjalan, dan sejauh mana cinta ini akan bertahan di tengah sulitnya hamba menemukannya.

Engkau yang tau hatiku, Engkau yang tau takdirku.

Bagaimana aku bisa melupakanmu, Mas. Sedangkan bayangmu saja selalu sukses hadir di tiap hela nafasku. Tak pernah sedetik pun pikiranku berhenti dari memikirkanmu. Ajarkan aku cara untuk melupakanmu, sedetik saja. Karena semakin aku memikirkanmu, semakin aku merindukanmu.

Aku kuat meskipun hanya memikirkanmu, dan membayangkan dirimu, aku terbiasa atas kondisi kita dulu. Tapi ini terlalu lama, Mas. Sudah lebih setengah tahun kepergianmu, 8 bulan tepatnya. Dulu kamu cuma pergi hanya beberapa hari, beberapa minggu paling lama. :') taukah kamu begitu berat rasanya saat kau tinggalkan disini?

Aku kuat, aku harus kuat. Seperti janjiku dulu, aku harus bisa kuat dalam kondisi apapun. Sekalipun hati menangis, aku harus kuat. Senyumku harus berkembang. Demi kamu, demi cerita kita dulu. Biarkan untuk sementara aku hidup di masa lalu kita, Mas. Biarkan aku menikmati setiap detik kenangan kita yang (dulu) indah :').

Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Seuntai cinta dan harapan terus terjalin, mengisi tiap relung hati yang indah. Dimanapun kamu, aku tetap disini dengan harapan tinggi dan besar terhadapmu.

Kalau memang aku tulang rusukmu, maka aku akan kembali padam, saat waktunya tiba :').

Aku mencintaimu, Mas, Sang Ksatria

Salam cinta, Sang Pencinta

Kamis, 28 Februari 2013

..:: Saat Rinduku Bermuara Dalam Mimpi Tentangmu :* ::...

Entah mengapa akhir-akhir ini aku semakin merindukanmu, Mas. Serasa seolah aku seperti kehilangan arahku untuk kesekian kalinya sejak kepergianmu. Begitu rapuh sampai terkadang rasanya sulit untuk berjalan.

Besarnya rasa cintaku, indahnya kenangan kita, selalu muncul setiap kali kucoba untuk bertahan dan berdiri tanpamu. Sulit, tapi aku harus bisa. Sekalipun aku masih harus melawan sekuat tenaga, karena ternyata kilasan hubunga 2 tahun bersamamu tak pernah bisa hilang, sampai sekarang.

Aku kangen, Kamu, Mas. Saking kangennya aku sampai memimpikanmu lagi. Kemana kamu sebenarnya? Apa aku nggak berhak atas segala penjelasanmu? Apa sebegitu kecilkah bagimu apa yang sudah kita jalani selama ini?

Kita bukan pasangan ABG yang kalau ada masalah putus dan cari yang baru. Apa yang kita jalani menuju muara bernama "Pernikahan". Segala hal yang kita bahas, dari tata cara adat, sampai soal dimana kita akan tinggal, sudah kita persiapkan. Juga tentang bagaimana biduk rumah tangga kita nantinya dijalankan :).

Mereka bilang aku tak perlu lagi menunggumu, cari saja yang lain. Tapi mereka tak pernah tau bagaimana rasanya jadi aku, diposisiku. Jika hal ini juga mereka alami, mereka pun pasti akan mendukung.

Aku merindukanmu, Mas, terutama di masa-masa sulit begini, pikiranku banyak, fisikku lelah, aku ingin mengeluh, paling tidak bersamamu sejenak saja sudah bisa menghilangkan rasa gundahku. Ya, Sayang, aku gundah karena suatu hal, tidak, banyak hal sebenarnya.

Dulu saat aku berada di level bawah begini, kamu yang terus berikanku asupan semangat untuk tetap bangkit. Meyakinkanku bahwa apa yang kupilih pasti yang terbaik, mengajariku untuk mensyukuri apa yang kudapatkan selama hidupku.

Ya Allah, Mas, aku sangat kangen, aku sangat rindu kamu (⌣́_⌣̀). Cuma air mata yang bisa kukeluarkan, untuk sekedar 'membuang' perasaan kacau yang mendera hati dan menyita pikiran serta menguras tenaga.

Karena cuma kamu yang mampu mengerti aku tanpa aku harus mengatakan hal itu padamu. Karena kamu seorang Rico, ayah dari Utha, si jagoan kecil. Kalian kekasih hatiku. Kesayangan dan kecintaanku.

Kamu selalu hidup, Mas. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti dihadapanku, untuk menjelaskan segala hal yang kau sembunyikan.

Mas, Pulanglah, Lekas kembali. Aku amat sangat merindukanmu...

Dalamnya rinduku untukmu Sang Ksatria, hanya kamu dan jagoan kita :).

Salam cinta penuh kerinduan.

Sang Pencinta

Jumat, 22 Februari 2013

..:: Saat Kata "KITA" Tak Lagi Bergema (Part. 2) ::...

Bagaimana siangmu hari ini? Masih rutinkah puasa Senin-Kamis yang dulu seringkali kita jalankan bersama? :) aku masih sangat merindukanmu. Sangat.

Tapi, bukan berarti aku terus-terusan meratapi kepergianmu, bukan. Aku harus maju kan? Agar aku bisa tetap mewujudkan segala hal yang pernah kubangun bersamamu, meskipun harus kujalani sendiri. Impian yang satu itu, yang akan kucoba untuk wujudkan sendiri. Dengan atau tanpamu yang kudampingi.

Kepergianmu seolah cabut jutaan syaraf di tubuhku, membuatku lumpuh untuk sementara waktu. Meratapi dan menangis tergugu karenamu. Aku terpuruk dalam sunyi dan dunia yang kuciptakan sendiri. Dunia yang penuh dengan kenangan atas kita berdua. Kenangan yang pernah jadi tujuan kita bersama saat itu, dulu.

Berbulan-bulan aku kembali menata jalanku sendiri, mencoba menghilangkan kepingan yang terendap, menghilangkan kata "KITA" yang dulu selalu bersama. Berharap pada ketidakpastian akan kembalinya kamu. Sepanjang malam kuhabiskan mengingat kembali cerita yang pernah terjalin. 2 tahun yang terasa sangat cepat, apalagi setelah kepergianmu.

Bahkan kehadiran orang lain pun tak sanggup menghilangkan rasa sayangku padamu, juga pengharapanku tentang impian kita. Aku, sampai sekarang masih berharap dan berkutat dengan kenangan-kenangan lama kita yang dulu pernah ada. Dan terus kupelihara sampai sekarang. Kerapuhanku tanda begitu besarnya cintaku pada kalian. Ya, kalian. Kamu dan anakmu, jagoan kecil kita :).

Jagoan yang dulu pernah kita sebut untuk kita bahagiakan bersama. Yang selalu jadi penyemangatku dalam menapaki dan menanti kedatangan kalian. *bahkan sampai sekarang entah mengapa hatiku masih yakin akan kembalinya kamu, Mas*

Mungkin butuh waktu yang panjang untuk melupakan dan kembali membangun hatiku untuk mencintai orang lain. Di saat waktu itu tiba, di saat aku di-Imam-i oleh seseorang, yang bukan dirimu, itulah saatnya aku harus melepaskan semua hal tentang kita yang dulu pernah ada dalam hidupku. Melupakan segala kenangan, cita-cita, harapan, dan impian yang dulu pernah terasa nyata ada disekeliling kehidupan kita yang indah.

Melupakanmu sebagai cinta, harapan, dan masa depan. Dan menggantinya dengan kamu sebagai bagian cerita yang pernah mewarnai hidupku dengan indah. Bagian yang dulu pernah jadi satu dengan jiwaku :). tapi nanti, ketika aku harus mendampingi lelaki lain yang menawarkan cinta yang indah dan membangun kepastian di masa depan untuk ku dampingi, ketika itulah semuanya harus berubah.

Tapi, setelah sekian lama kepergianmu, aku tetap belum bisa memantapkan hatiku memilih yang lain, belum bisa kuletakkan hati ini ke hati yang lain. Pernah ada, namun ternyata tak semudah yang kupikirkan sebelumnya. Sulit ternyata menghilangkan kuatnya dirimu dari segala sisi kehidupanku.

Mengapa melupaka tak semudah saat kita pertama kali diberikan rasa cinta itu oleh-Nya? :). Menguras tenaga dan pikiranku selama ini. Membuatku sulit berjalan, sulit berpikir, bahkan sulit bernafas karena itu semua.

Aku sangat mencintaimu, dan kau pun tau itu. Namun cinta ini memang ada saatnya harus dihentikan ketika kita berdua menemukan orang yang nantinya harus kita dampingi dan cintai. Jikalau kita memang tak jodoh.

Jika nanti ada waktunya. Jika nanti kita memang ditakdirkan bersama, aku yakin akan berakhir dengan senyum kebahagiaann, dengan penuh tawa canda penuh suka cita yang tak terbendung lagi. Saat kita mengenang kelucuan dan kebodohan saat kita terpisah. Saat bagian 'AKU' dan 'KAMU', menjadi 'KITA'. Bertiga dengan si jagoan kecil yang selalu kunantikan :).

Aku percaya takdir Allah pasti indah. Seindah kisah cinta yang pernah kita rajut bersama, seindah impian di masa depan yang pernah singgah dan sampai saat ini selalu kupegang erat di dalam hatiku.

Saat yang indah. Nantinya.

Sang Ksatria, aku merindukanmu. Sangat dan selalu rindu dirimu :).

Salam cinta, Sang Pencinta

Senin, 04 Februari 2013

..:: Saat Kata "KITA" Tak Lagi Bergema (Part. 1) ::...

Sudah lebih berbulan-bulan, dan aku masih mengenangmu. Tak ada yang salah kan? Tenang saja, aku sudah tak menangis tersedu lagi jika bayanganmu hadir kembali.

Bagiku, mengingatmu sudah bukan menjadi hal menyedihkan lagi, justru membangkitkan semangatku tuk beranjak maju. Ya, walau kutau, namamu masih melekat di jiwaku. Membuat perubahan permanen yang sampai sekarang masih sulit kuperbaiki.

:) senyummu, gayamu, suaramu. Bohong kalau kubilang aku melupakan suaramu. Justru suaramu lah yang terus menerus meng"hidup"kanku. Menjadikanku manusia, bukan boneka berjalan.

Kamu sudah pergi, ke tempat yang tak ku ketahui. Bisa jadi kita ada di tanah yang sama, di waktu yang sama. Hanya saja takdir belum memberikan cermin untuk kita bisa melihat satu sama lain.

Aku pun tetap bertahan di tempat ini, entah untuk apa, mungkin demi kenangan yang pernah hadir. Kenangan yang pernah jadi pertanda bahwa cinta darimu ada untukku.

Aku memang naif, Sayang, kau pun tau itu sejak lama. Dan kau pun bahkan tau persis bagaimana jalan pikiranku. Betapa aku tak pernah bisa melayangkan marah padamu, betapa aku berjuang keras menahan egomu, egoku, ego kita.

Begitu banyak hal yang kau ketahui tentangku. Segala hal tentangku. Dari hal-hal terkecil pun kamu tau :). Bagaimana cara menenangkanku, di balik kerasnya sifatmu, di balik sikapmu yang terkadang tak tertebak.

Ya Allah, betapa aku masih menahan bayanganmu di hati dan pikiranku. Betapa aku masih amat sangat menyayangimu. Sampai airmata ini terurai indah untukmu. Menuruni jejaknya di antara ujung kelopak mata menuju hidung dan berakhir di sudut bibirku.

Hanya Allah dan aku yang mengetahui, bagaimana pengaruhmu begitu kuat tertanam di balik sikap kuatku, di balik tegarnya wajah yang kuperlihatkan pada mereka. Aku memulai segalanya dari nol, dari titik yang tak pernah bisa kau bayangkan sebelumnya.

Ya, titik yang bahkan tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Siapa yang tau akan berpisah tanpa jejak? Siapa yang kalau akhir cinta kita akan seperti ini jadinya? :).

Hey, I'm still strong, never be strong like this before. Kamu yang membuatku tegar, sekalipun cinta kita harus terpisahkan, tapi aku tetap bisa bertahan karena ada bayangmu yang selalu temaniku. Hanya bayanganmu, bukan dirimu seutuhnya, tapi toh itu sudah membuatku merasa kuat seperti sedia kala saat kita masih bersama.

Aku mencintaimu, apa kau tau itu? Ya, kamu pasti tau, karena kata cinta itu selalu kuucapkan dari awal, bahkan setelah kau menghilang pun kata cinta itu tetap kuhaturkan padamu lewat untaian doa dan namamu yang selalu kusebut di setiap hela napasku.

Mungkin karena aku belum menemukan orang yang tepat, orang yang memang ditakdirkan Allah untuk kudampingi :). Nanti akan ada waktunya kan? Seperti katamu, semua hal sudah diatur Allah, begitu juga pertemuan dan perpisahan kita yang tanpa kata.

Semua hal, ya, semuanya :). Begitu banyak spekulasi, membuat kita hanya berputar di masalah yang sama. karena itu kujalani hariku, menanti saat itu tiba. Saat dimana aku memang harus melepasmu sejauh mungkin. Saat dimana aku harus jadi pendamping hidupnya. Di saat itulah kata "KITA" harus berubah dari aku dan kamu, menjadi aku dan dia.

to be continued...

Rabu, 30 Januari 2013

..::Melepasmu::..

Tak pernah bisa habis cerita tentangmu. Ya, tentangmu yang pernah menjadikanku berada di tahta cintamu. Begitu pun sebaliknya, kamu yang pernah (bahkan sampai sekarang) tetap jadi pemimpin di tahta hatiku.

Tapi, aku tau aku harus melepasmu. Melepas bukan berarti melupakan, ataupun membenci kan? :). Hanya sekedar melepaskan diri dari ketidakmampuan menahan tangis yang tercipta dan terurai ketika langkahmu tak ku ketahui.

Aku harus bangkit, untuk diriku, untuk cinta yang pernah kita agung-agungkan. Demi masa lalu yang indah, aku harus mampu berdiri tegak, walau itu harus kujalani tanpamu.

Aku memang pernah menunggumu, tapi, mungkin saat ini kulepaskan bayanganmu.
Biarlah cinta melayang jauh. Menemui hati yang memang sudah diatur-Nya untuk kita tempati :').

Aku tetap mencintaimu, menyayangimu, meski sekarang dalam bentuk yang berbeda.

Kusimpan cinta dan sayang ini dalam kotak yang kuletakkan di dasar hati, agar tak tersentuh dan tak terbuka lagi.

Selamat malam, Sang Ksatria-ku.

Dariku yang pernah mendampingimu, Sang Pencinta

Minggu, 27 Januari 2013

...::Kembali Mengingatmu::...

Aku kembali ke halaman ini, setelah berbulan-bulan kepergianmu. Ya, kepergianmu yang menyisakan begitu banyak tanya dalam hatiku. Tanya yang begitu melimpah ruah menanti jawaban dan secuil penjelasan darimu.

7 bulan :') aku menunggumu kembali. Bulan-bulan yang penuh airmata, penuh penantian panjang. Sampai waktu dan hidupku seolah berhenti karena begitu merindukan dan menantimu. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Apa? Sedangkan rahasia yang kau simpan sudah kau beritahu padaku, hal yang sempat membuat benakku penuh rasa ingin tau pun sudah kau ceritakan.

Lalu apa? Sedangkan kita tak punya masalah saat itu. Tidak ada. Bahkan aku yang mengambil alih tanggungjawabmu untuk menyelesaikan masalah itu, masalah di luar hubungan internal kita. Aku yang terus menerus berjanji mendampingimu. Aku yang selalu bersamamu saat kita diuji.

Aku tak marah, sungguh. Apa pernah aku memarahimu, Sayang? Tidak sekalipun selama 2 tahun kebersamaan kita :'). Aku mengerti apa yang kau lakukan, aku memahami apa yang menjadi alasan sikapmu. Tapi itu dulu, sebelum kau menbghilang tanpa jejak, tanpa kata-kata.

Taukah aku sempat hampir gila mencari keberadaanmu, segala cara kutempuh agar aku tau dimana kau berada. Agar aku bisa mengatakan "Sayang, masalah kita sudah selesai, kamu bisa bernafas lega sekarang." Tapi, tak pernah kau muncul sekalipun untuk mengucapkan perpisahan.

:') lalu salahkah jika aku masih percaya bahwa suatu saat kau akan kembali? Seperti sebelumnya, kata hatiku selalu benar jika itu berhubungan denganmu. Aku yakin, insya Allah...

Dan sampai sekarang pun, aku masih yakin, meski disaat aku terpuruk, disaat airmataku sudah mengering, aku masih percaya suatu saat kau akan kembali.

Jika itu terjadi, kau tentu tau kemana harus kau langkahkan kakimu, menuju hatiku...

Salam rinduku, kekasihku, Sang Ksatria.

Dari aku yang sangat mencintaimu,

Sang Pencinta