Jumat, 22 Februari 2013

..:: Saat Kata "KITA" Tak Lagi Bergema (Part. 2) ::...

Bagaimana siangmu hari ini? Masih rutinkah puasa Senin-Kamis yang dulu seringkali kita jalankan bersama? :) aku masih sangat merindukanmu. Sangat.

Tapi, bukan berarti aku terus-terusan meratapi kepergianmu, bukan. Aku harus maju kan? Agar aku bisa tetap mewujudkan segala hal yang pernah kubangun bersamamu, meskipun harus kujalani sendiri. Impian yang satu itu, yang akan kucoba untuk wujudkan sendiri. Dengan atau tanpamu yang kudampingi.

Kepergianmu seolah cabut jutaan syaraf di tubuhku, membuatku lumpuh untuk sementara waktu. Meratapi dan menangis tergugu karenamu. Aku terpuruk dalam sunyi dan dunia yang kuciptakan sendiri. Dunia yang penuh dengan kenangan atas kita berdua. Kenangan yang pernah jadi tujuan kita bersama saat itu, dulu.

Berbulan-bulan aku kembali menata jalanku sendiri, mencoba menghilangkan kepingan yang terendap, menghilangkan kata "KITA" yang dulu selalu bersama. Berharap pada ketidakpastian akan kembalinya kamu. Sepanjang malam kuhabiskan mengingat kembali cerita yang pernah terjalin. 2 tahun yang terasa sangat cepat, apalagi setelah kepergianmu.

Bahkan kehadiran orang lain pun tak sanggup menghilangkan rasa sayangku padamu, juga pengharapanku tentang impian kita. Aku, sampai sekarang masih berharap dan berkutat dengan kenangan-kenangan lama kita yang dulu pernah ada. Dan terus kupelihara sampai sekarang. Kerapuhanku tanda begitu besarnya cintaku pada kalian. Ya, kalian. Kamu dan anakmu, jagoan kecil kita :).

Jagoan yang dulu pernah kita sebut untuk kita bahagiakan bersama. Yang selalu jadi penyemangatku dalam menapaki dan menanti kedatangan kalian. *bahkan sampai sekarang entah mengapa hatiku masih yakin akan kembalinya kamu, Mas*

Mungkin butuh waktu yang panjang untuk melupakan dan kembali membangun hatiku untuk mencintai orang lain. Di saat waktu itu tiba, di saat aku di-Imam-i oleh seseorang, yang bukan dirimu, itulah saatnya aku harus melepaskan semua hal tentang kita yang dulu pernah ada dalam hidupku. Melupakan segala kenangan, cita-cita, harapan, dan impian yang dulu pernah terasa nyata ada disekeliling kehidupan kita yang indah.

Melupakanmu sebagai cinta, harapan, dan masa depan. Dan menggantinya dengan kamu sebagai bagian cerita yang pernah mewarnai hidupku dengan indah. Bagian yang dulu pernah jadi satu dengan jiwaku :). tapi nanti, ketika aku harus mendampingi lelaki lain yang menawarkan cinta yang indah dan membangun kepastian di masa depan untuk ku dampingi, ketika itulah semuanya harus berubah.

Tapi, setelah sekian lama kepergianmu, aku tetap belum bisa memantapkan hatiku memilih yang lain, belum bisa kuletakkan hati ini ke hati yang lain. Pernah ada, namun ternyata tak semudah yang kupikirkan sebelumnya. Sulit ternyata menghilangkan kuatnya dirimu dari segala sisi kehidupanku.

Mengapa melupaka tak semudah saat kita pertama kali diberikan rasa cinta itu oleh-Nya? :). Menguras tenaga dan pikiranku selama ini. Membuatku sulit berjalan, sulit berpikir, bahkan sulit bernafas karena itu semua.

Aku sangat mencintaimu, dan kau pun tau itu. Namun cinta ini memang ada saatnya harus dihentikan ketika kita berdua menemukan orang yang nantinya harus kita dampingi dan cintai. Jikalau kita memang tak jodoh.

Jika nanti ada waktunya. Jika nanti kita memang ditakdirkan bersama, aku yakin akan berakhir dengan senyum kebahagiaann, dengan penuh tawa canda penuh suka cita yang tak terbendung lagi. Saat kita mengenang kelucuan dan kebodohan saat kita terpisah. Saat bagian 'AKU' dan 'KAMU', menjadi 'KITA'. Bertiga dengan si jagoan kecil yang selalu kunantikan :).

Aku percaya takdir Allah pasti indah. Seindah kisah cinta yang pernah kita rajut bersama, seindah impian di masa depan yang pernah singgah dan sampai saat ini selalu kupegang erat di dalam hatiku.

Saat yang indah. Nantinya.

Sang Ksatria, aku merindukanmu. Sangat dan selalu rindu dirimu :).

Salam cinta, Sang Pencinta

Tidak ada komentar: