Terkadang merasakan kesedihan yang dalam, saat kamu malah acuh dan mengabaikanku. Aku mengerti kesibukanmu, aku mengerti waktumu tak hanya untukku. Tapi bisakah kita seperti dulu lagi? Seperti saat kamu berusaha meyakinkanku untuk menerimamu?
Aku merindukan saat-saat seperti dulu lagi sayang. Rindu saat perhatianmu yang besar, rasa cintamu yang perlihatkan, sifat protektifmu yang selalu membuatku tenang dan merasa aman. Segalanya tentang dirimu aku rindu.
Aku mampu bertahan karena cintamu. Taukah kamu saat kita dilanda masalah aku selalu takut, takut kehilangan cintamu. Itulah sebabnya mengapa aku selalu ingin kita menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi saat itu juga, tanpa harus menunggu hari esok. Aku tau cara pandang kita berbeda dalam beberapa hal, itu wajar sayangku. Tapi bukan berarti kita harus berantem tiap saat kan?
Kadang aku berfikir cintamu masih untuk almarhumah, aku merasa seperti seorang pelarian cinta, sayangku. Beragam cara ku coba untuk menepis segala rasa yang ada di hati dan fikiranku, namun gagal. Sampai pada suatu titik dimana aku mendapatkan cara dan jawaban yang tepat, kurasa.
Aku menerima kalau cintamu, hatimu masih terbagi untuk dirinya. Aku ikhlas, sayang. Aku bukan wanita yang memaksakan cintanya. Kamu bahkan tau siapa yang ada di hatiku. Selama apapun aku harus menunggu hatimu untukku, aku mampu, aku rela, dan aku mau.
Lihatlah aku sebagai diriku, bukan sebagai refleksi dirinya. Lihatlah aku sebagai cintamu yang sekarang, bukan yang dulu. Tak apa kalau kita masih mengingat dirinya, karena dia bagian dari masa lalumu, dia juga yang 'mempertemukan' kita. Dia juga berhubungan dengan cinta kita sayangku. Tanpa dia mungkin tidak akan ada kita. Mungkin ada, tetapi dengan cara dan situasi yang berbeda. Orang bilang ini takdir. Takdir Allah yang memperkenalkan dua orang yang berbeda jarak, tempat, dan waktu. Dua orang yang belum pernah bertemu, namun saling mencintai.
Inilah kita sayang, inilah cinta kita.
Aku mencintaimu
Sang Pencinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar