Rabu, 05 Oktober 2011

......... (untitled)

Bagaimana kabarmu hari ini kekasihku

Masihkah sepotong hatimu tersedia ruang untukku?

Aku merindukanmu, benar-benar rindu. Entah sedang apa dirimu disana, terlelapkah? atau malah sedang terjaga karena sama rindunya dengan diriku?

Tak pernah cukup waktu sehari untuk ku nikmati bersamamu, andai saja bisa lebih banyak waktu yang kita habiskan bersama-sama, dengan senang hati. Tak pernah cukup, sayangku. Karena begitu banyak cerita, begitu banyak kata-kata yang ingin ku sampaikan padamu, begitu banyak hal yang ingin kubagi dan kuberikan padamu.

Serasa ada di dalam jam pasir, menunggu pasir turun ke dasar botol kaca nan bening. Menunggu dengan harap-harap cemas, akankah semua berakhir selepas malam ini?

Aku adalah wanita, sayang. Andaikan keadaan sebaliknya, dengan mantap dan tanpa ragu kau sudah kulamar. :) Ingatkah kamu saat kubilang ingin menikahimu? Kamu menjawab dengan cukup kaget, tapi tak ada salahnya aku mengutarakan hal yang sama yang pernah kau utarakan saat beberapa waktu sebelumnya bukan?

Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu. Aku menerimamu dengan segala yang ada di dalam dirimu. Profesimu, keluargamu, kondisimu, kelebihan dan kekuranganmu, juga masa lalumu. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi mengapa saat kukatakan aku mencintaimu apa adanya kamu seolah tidak percaya? Sebegitu apatiskah hatimu tentang cinta yang tulus? Sebegitu parahkan luka yang ditinggalkan atas kepergian wanita yang begitu kau cintai, sampai-sampai kau tidak percaya lagi dengan cinta yang menerima segala kekuranganmu?

Taukah kamu, aku mengetik tulisan ini dengan penuh rasa rindu dan tetesan airmata yang tak pernah kering. Airmata yang selalu punya alasan untuk mengalir, airmata yang hanya bisa mengalir karena dirimu. Airmata yang bercampur berbagai rasa. Cinta, bahagia, impian, takut, resah, gundah, senang, sedih, all of them mixed in my tears.

Mengapa kau begitu tidak percayanya dengan cintaku? Mengapa kau selalu penuh dengan pikiran-pikiran buruk tentang kesetianku? Tepiskan keraguan itu, sayang, aku mohon. Karena memang tidak pernah terlintas niat apalagi sampai berani menduakan kesetiaan cinta yang sudah kita bangun hampir setahun ini.

Ada saatnya nanti kamu percaya penuh dan kembali pada cinta yang kita yakini di awal hubungan. Aku tetap menunggu, menunggu keberanianmu untuk meraih masa depan, membangun impian bersama. Disini, di tempat ini aku menunggumu dengan hatiku. Menunggumu dengan berjuta rasa yang tak pernah bisa kau percayai.

Sayang, aku hanya meminta dua hal darimu, yakinilah cintaku dan tempatkanlah aku dalam hatimu meskipun tempat yang kau berikan untukku tak sebesar cintamu untuknya, aku rela.

Ksatriaku... malam ini aku menunggumu, menunggu semua pesan-pesan yang sudah ku kirim dari tadi sore terkirim dan kau baca. Syukur Alhamdulillah kalau kau membalas pesan-pesanku itu :) I wish.
 
Sang Pencinta

Tidak ada komentar: