Selama ini, beberapa bulan ini, saya menceritakan tentang dirinya. :) ya, dia yang saya cintai. Pria yang menghuni hati saya sejak awal perkenalan. Pria yang menancapkan cintanya di hati dan kehidupan saya. Yang memberikan saya kekuatan dan semangat untuk melangkah. Dan yang terpenting, dialah yang membawaku kembali ke jalan-Nya, kembali menemukan diriku yang sesungguhnya, menghilangkan sisi kelam keangkuhan sifatku. Jangan bayangkan saya yang dulu dengan yang sekarang. 180 degrees different than this, maybe 360 degrees.
Pria ini, yang membawa senyum saya, mengukir cinta yang indah dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang semakin membuat saya mencintainya dengan cinta yang teramat besar, cinta yang bahkan orang lain tak pernah bayangkan sebelumnya. Dia pria pertama, satu-satunya, dan pria terakhir yang ingin saya dampingi sepanjang sisa umur saya.
Begitu banyak hal yang kami lewati, dari sedih, ketawa, jahil, diam-diaman, ngambek, marah, ngamuk, kesel, nangis, begadang, romantis, nafsu makan hilang gara gara berantem hebat, sampai pada klimaksnya, putus, dan Alhamdulillah nyambung lagi. Semuanya pernah kami jalani, pernah kami rasakan. Bahkan tertawa dalam kesakitan yang luar biasa juga sudah kami lewati. Hal-hal yang tak pernah dibayangkan oleh orang lain. Momen-momen yang kami alami bersama, dengan jarak yang berjauhan tak jadi alasan untuk menghancurkan kebahagiaan yang kami rasakan.
Aku dan dia merasakan hal yang sama, menginginkan hal yang sama, mendoakan hal yang sama pula. Yaitu, bersama, berdua membangun ikatan yang diberkahi dan diridhoi-Nya, yang mendapatkan restu dan doa dari orang-orang yang kami sayangi :). Amin ya Rabb.
Kami pernah terpuruk, kami kadang berantem karena keegoisan yang meraja dalam hati. Tapi aku dan dia hanya manusia biasa, yang punya ego dan nafsu untuk memenangkan keinginan pribadi. Dan dari banyak pertengkaran, kami selalu bisa melaluinya, Alhamdulillah. Kata 'putus' yang pernah terlontar tak pernah bertahan lebih dari 1 jam (tapi terasa lama sekali). Kami tidak mudah untuk mengatakan kata 'keramat' itu, tidak pernah, bahkan terfikir pun tidak. Kalimat itu meluncur begitu saja justru karena kami tidak ingin menyakiti hati yang kami cintai.
Tapi cinta ini terus bertahan dan akan berrtahan. Karena kami saling mencintai karena Allah yang memberikan jalan. Karena Allah yang memberikan jalan-Nya.
Kekasihku, jaga dirimu disana ya, ingat pesan pesan cinta yang kutinggalkan untukmu. Kalimat ini mungkin tak kau lihat, tapi rasakanlah panggilan jiwaku untukmu. Hanya kamu :)
:) saat kau kembali pulang dari tugasmu, aku tetap memiliki cinta ini untukmu, dengan cinta yang bertambah besar.
Aku mencintaimu
Sang Pencinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar