Sayangku, maaf kalau aku tidak menyampaikan ini padamu. Bukan karena aku tak menghargaimu, bukan. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku tak pernah ingin menyakiti hatimu.
Tanyalah pada dirimu sendiri, pasti kau akan tau reaksimu sendiri apabila aku ucapkan hal ini padamu kan? Kau pasti akan marah dan mulai berpikir buruk. Sungguh, aku tak pernah mau membohongimu, sayangku. Aku tau kau sedang lelah dengan kedinasanmu, aku paham dan mencoba mengerti tentang resiko profesimu yang berbeda dengan orang kebanyakan.
Sayangku, aku mengerti betul dengan waktumu yang tak bisa selalu ada untukku, yang tak bisa selalu mendengarkan cerita dan curahan hatiku. Tapi bisakah kau jelaskan dan ceritakan yang ada di hatimu, di pikiranmu, dan yang kau alami padaku walaupun hanya 1 kali dalam sehari. Atau paling tidak, bisakah kau ungkapkan apa yang sebenarnya kau rasakan sekarang?
Aku seolah tak mengenalimu lagi sayang, namun untuk bertanya langsung, ku kira ini bukan saat yang tepat. Kau ingat kita baru saja berbaikan setelah kejadian seminggu lalu? Aku tak ingin perang urat syaraf denganmu lagi sayangku, sangat menguras emosi hati dan pikiranku. Kau tau berhari-hari aku seperti orang ling-lung yang tak tau arah? Sangat tertekan tanpa dirimu. Aku bahkan tak tidur dan makan berhari-hari saat kita diterpa masalah. Ini salahku, iya. Tapi bukan berarti aku tak berhak meminta maafmu kan sayang?
Bukannya aku menagih hutang maaf darimu kekasihku, sungguh bukan itu. Tapi tak bisakah sejenak kau kembalikan ingatanmu saat berkali kau juga meminta maaf dariku? Saat mengatakan ini sungguh aku hanya bisa memohon ampun pada Allah, karena tak sedikitpun niatku untuk menyakiti maupun mengungkit hal-hal buruk yang terjadi dalam hubungan kita.
Hubungan kita memang tak pernah diganggu kehadiran orang ketiga, dan semoga saja tidak akan pernah, Naudzubillah. Cobaan yang datang justru dari sifat kita berdua, keegoisan yang datang tiba-tiba selalu sukses membuat kita bertengkar. Kau tau sayang, bukan maksud hatiku untuk mengungkit kesalahanmu, bahkan aku tak pernah menganggap itu sebagai suatu kesalahan, namun kekhilafan yang terjadi karena kamu, aku, kita hanya manusia biasa sayang.
Kadang aku berfikir, kenapa aku tak pernah bisa memarahimu? Kutemukan jawabannya, karena aku tak ingin kamu terluka, karena aku tak ingin merasa digurui, itulah sebabnya aku hanya mengingatkanmu. Aku mencoba meresapi dan memahami, menempatkan diri di posisimu agar aku bisa menyelami dan mengerti jalan pikiranmu.
Sayangku, aku bukannya ingin menghakimimu, hanya ingin dan berharap kau bisa mendengar isi hatiku, cobalah menjadi diriku, bagaimana rasanya diacuhkan saat kita selalu memberikan cinta yang besar? Aku tak mau menghitung besarnya cintaku sayang, aku tak mau kau jadi merasa aku 'menagih'mu. Tidak! Tapi aku ingin lebih mendapatkan perhatianmu, walaupun hanya sedikit di antara padatnya waktu yang kau miliki untuk beberapa minggu ini.
Aku merasa kau sedikit menjauh, sedikit berubah dari dirimu yang dulu. Aku merindukanmu yang bermanja-manja, aku merindukan segala hal yang dulu selalu kita bagi dan lewati bersama. Apakah ini proses pendewasaan? Semoga saja benar, Ya Allah, berikanlah kasih sayangMu yang besar dan tak terhingga untuk kami. Izinkanlah kami bersatu dalam satu waktu, satu tempat, satu jarak. Engkau tau hamba sangat mencintainya ya Rabb. Engkau tau hanya dia yang selalu ada dalam doa dan dzikir hamba.
Sang Pencinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar